Mahasiswa Solo Gelar Aksi Solidaritas di Gladak, Tuntut Pemangkasan Gaji DPR dan Keadilan bagi Korban
Solo, 30 Agustus 2025 – Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Surakarta turun ke jalan dalam aksi solidaritas di kawasan Gladak, Sabtu (30/8). Aksi ini digelar sebagai wujud kepedulian atas jatuhnya korban jiwa dalam sejumlah aksi massa, sekaligus penegasan sikap terhadap berbagai persoalan ketidakadilan yang masih terjadi di negeri ini.
Sebelum berangkat menuju Gladak, mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) menggelar konsolidasi terbuka di lingkungan kampus. Forum ini menjadi ruang untuk menyatukan semangat sekaligus merumuskan sikap bersama yang akan dibawa ke tengah massa aksi. Dalam konsolidasi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNISRI menyampaikan lima pernyataan sikap secara tegas.
Lima Pernyataan Sikap BEM UNISRI:
1. Menuntut DPR RI memangkas tunjangan dan gaji berlebih, lalu mengalokasikannya untuk kesejahteraan rakyat, khususnya tenaga pendidik.
2. Mendesak pemerintah menaikkan gaji guru dan tenaga honorer minimal setara UMK sesuai amanat UUD 1945 tentang hak atas penghidupan yang layak.
3. Menuntut DPR RI melakukan reformasi struktural agar kembali menjalankan fungsi sejatinya sebagai wakil rakyat, bukan sekadar elit yang menikmati privilese.
4. Mendorong terbentuknya mekanisme pengawasan independen berbasis partisipasi publik untuk menekan defisit moralitas di tubuh DPR.
5. Meminta negara menjatuhkan hukuman berat kepada aparat kepolisian yang terbukti mengakibatkan korban jiwa dalam aksi massa.
Selain lima tuntutan itu, mahasiswa juga menyerukan agar aparat dan DPR segera membebaskan rekan-rekan mereka yang ditangkap dalam aksi sebelumnya. Seruan ini menjadi bagian dari dorongan agar kebebasan berekspresi tidak dibungkam oleh tindakan represif aparat.
Aksi solidaritas di Gladak tidak hanya diikuti mahasiswa UNISRI. Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Raden Mas Said (UIN) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) juga hadir, menyatukan barisan dan memperkuat semangat perjuangan. Kehadiran tiga elemen kampus besar ini membuat aksi semakin masif dan menggema di tengah kota.
Rangkaian aksi berlangsung khidmat sekaligus penuh makna. Massa menggelar sholat ghaib untuk para korban, dilanjutkan dengan doa bersama, penyalaan lilin, dan tabur bunga. Selain itu, ditampilkan pula aksi teatrikal sebagai simbol perlawanan sekaligus ekspresi duka mendalam. Seluruh rangkaian simbolisasi itu menjadi penegasan bahwa mahasiswa tidak tinggal diam, tetapi terus bersuara dan menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan bangsa.
Aksi di Gladak 30 Agustus 2025 menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tetap memegang peran sebagai pengawal nurani rakyat. Mereka menyuarakan tuntutan agar negara menjalankan kewajiban konstitusionalnya, menegakkan keadilan, dan tidak menutup mata terhadap suara publik. Bagi mahasiswa, perjuangan untuk keadilan dan kemanusiaan tidak boleh berhenti, bahkan harus terus disuarakan di jalanan.


